Minggu, 06 Oktober 2013

Tari Sekapur Sirih Jambi


Orang penting yang berkunjung ke tanah Jambi pastilah beruntung karena akan disuguhkan gerak tari yang lembut dan halus berkolaborasi dengan iringan musik dan syair yang agung. Tari tersebut ialah Tari Sekapur Sirih. Tari ini merupakan tarian selamat datang kepada tamu-tamu besar di Provinsi Jambi.

Tarian ini diciptakan oleh Firdaus Chatab pada tahun 1962. Pada tahun 1967 tarian ini ditata ulang oleh OK Hendri BBA. Tari ini mendeskripsikan perasaan lapang dan terbuka yang dimiliki orang-orang Jambi terhadap tamu yang berkunjung ke daerah mereka. Jumlah penari dalam tarian ini ialah 9 orang penari perempuan dan 3 orang penari laki-laki. Di antara dua belas penari tersebut satu orang bertugas memegang payung, dua orang pengawal, dan sisanya menari.

Sayangnya, antusiasme warga terhadap tarian ini berkurang. Hal tersebut terlihat dari jumlah penari yang menyusut dalam tarian ini, yaitu berjumlah enam orang, satu orang penari laki-laki yang bertugas membawa cerano, sisanya penari perempuan.

Gerakan melenggang, sembah tinggi, merentang kepak, berhias (memasang cincin, gelang, anting, serta bedak gincu dan calak), gerakan putar setengah, putar penuh menjadi bagian dari tarian ini. Gerakan tersebut dilakukan dalam posisi level rendah dan sedang, sedangkan pola lantai yang dimainkan disesuaikan dengan kebutuhan dan tempat pementasan. Apabila dilakukan di gedung atau indoor pola lantai dapat dilakukan namun apabila di luar gedung atau outdoor pola lantai jarang dilakukan.

Cerano atau wadah yang berisikan lembaran daun sirih, payung, keris merupakan property yang digunakan dalam tarian ini. Untuk pakaian, para penari mengenakan baju kurung adat Jambi.  Senandung lagu rakyat Jeruk Purut  dan suara biola dan akordion berlanggam melayu dan ditemani oleh gambus, gong, dan gendang turut mengiringi tarian ini.

Para penari berhias tubuhnya dengan balutan songket, baju kurung dalam, sedangkan hias kepala berupa sunting yang terdiri dari kembang goyang, beringin dan cempako. Pemanis lain yang juga digunakan ialah teratai, pending dan gelang. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, aksesoris yang dipakai bertambah. Misalnya, Gelang Kilat Bahu, Gelang Kano, Gelang Pipih dan Gelang Buku Beban atau juga disebut Gelang Puru, sedangkan sanggul Lipat Pandan, Sunting Beringin, dan Kembang Goyang menjadi perhiasan untuk kepala.

Sebenarnya, nama atau istilah dari tarian ini cukup beragam sama dengan beragamnya varian tarian ini, salah satunya tari Penyambutan. Awalnya, tarian ini disebut tarian persembahan, kemudian mengalami perubahan menjadi Tari Penyambutan. Bedanya dengan tari sekapur sirih ialah bahwa tari Penyambutan adalah tari kreasi baru yang diatur sedekat mungkin dengan Tari Kejei. Jumlah penari disesuaikan dengan tempat, bisa putra bisa putri, bisa juga berpasangan.

Masyarakat Rejang Lembak menyebut tari Penyambutan dengan sebutan tari Kurak, meskipun pada akhirnya nama tari Penyambutan dipilih untuk dibakukan. Musik dan Alat Musik dalam tari Penyambutan menggunakan musik Kejei.

Gerakan tarian ini terdiri dari sembah tari, yaitu tangan diangkat di atas bahu. Kemudian penari akan melakukan sembah tamu, yaitu gerakan tangan yang mengangkat tangan ke atas dada. Setelah itu penyerah siri melakukan pose setengah jongkok dan setengah berdiri untuk tarian yang dilakukan di luar rumah, sementara itu gerakan lantai dilakukan untuk tarian yang dilakukan di dalam rumah.

Senin, 30 September 2013

Masjid Agung AL - FaLah Jambi

MASJID satu ini lain daripada yang lain. Bangunannya sama sekali tidak mempunyai dinding atau tembok pembatas, mengizinkan angin sepoi-sepoi masuk ke dalam ruang ibadah.

Masjid Agung Al Falah di Kota Jambi merupakan yang terbesar di Provinsi Jambi. Sementara banyak masjid menampilkan keindahan melalui bentuk bangunan megah dengan banyak detail ornamen sebagai penghias, daya tarik terbesar Masjid Agung Al Falah justru pada sisi kesederhanaannya.

Jika dilihat sekilas, bangunan masjid ini memang hanya seperti sebuah pendopo terbuka dengan banyak tiang penyangga dan satu kubah besar di atasnya. Bentuk bangunan dengan konsep keterbukaan tanpa sekat seperti ini menghasilkan kesan ramah.

Masjid ini dikenal dengan nama Masjid 1.000 tiang, karena banyaknya tiang yang menopang rumah ibadah ini. Sebenarnya, jumlah tiang tidak sampai seribu buah melainkan hanya 232 tiang.

Bentuk-bentuk tiang ini beragam. Dari luar terlihat seperti umumnya tiang biasa dan berwarna putih polos. Namun, saat memasuki bagian tengah masjid akan terlihat jajaran 40 tiang bergaris tengah lebih besar daripada rang di luar. Bagian bawah tiang di tengah ini dihiasi ornamen ukiran kayu. Bagian tubuh tiang terbuat dari tembaga kuringan yang didatangkan dari Jepara, Jawa Tengah. Demikian seperti dikutip dari Duniamasjid, Sabtu (4/8/2012).

Keindahan bagian dalam masjid semakin terlihat dari bentuk mihrab yang terletak di dinding bagian barat, satu-satunya dinding masjd ini. Mihrab dihiasi ukiran dan kaligrafi dari kuningan dan tembaga.

Pemberian nama Al-Falah yang berarti kemenangan pada masjid ini juga memiliki banyak makna. Dari segi Islami, Al-Falah bermakna bahwa kehidupan manusia di dunia haruslah memperoleh kemenangan dengan mempertebal keimanan dan ketakwaan.

Menurut sejarah, masjid ini berlokasi di Tanah Pilih Peseko Betuah, yaitu tanah milik Kerajaan Melayu Jambi yang pada 1855 dikuasai oleh pemerintah Belanda sebelum berhasil dikuasai pemerintah Melayu (@okezone.com)